Tema ini kelihatannya amat sederhana sekali, namun efek yang dihasilkan dari tema tersebut amat sangat luas sekali, dan seperti pedang bermata dua yang bisa mendatangkan musibah, atau bisa mendapatkan hikmah. Semua itu tergantung dari perangkat manusia yang dipergunakan, untuk mengetrapkan agar tema itu sejalan dengan apa yang dikehendaki dan dicita-citakan sejak awal. Adanya tayangan berita tentang korupsi, peperangan, pertikaian, terorisme dan kehancuran ummat manusia, tidak lepas dari 3 hal yang saya jadikan tema diatas, yakni “ mencari, mencoba, dan membuktikan”. Adapun titik kunci dari ketiga hal yang menjadi dasar, sehingga cita-cita manusia bisa tercapai dengan baik dan sempurna, ialah pada kata “ mencari”. Semakin luas pendidikan dan pengetahuan seseorang, akan semakin luas pula tingkat pemikiran seseorang didalam mencari segala sesuatu untuk dirinya.
Begitu pula sebaliknya, jika seseorang tidak pernah mencari, atau bahkan hanya sekedar mencontoh tanpa memahami apa yang dilakukan orang lain, akan menimbulkan suatu bahaya yang amat besar. Tidak hanya kepada dirinya, akan tetapi bisa berakibat pada orang lain. Terlebih lagi jika yang mencontoh itu adalah seseorang yang mempunyai pengaruh besar pada masyarakat sekelilingnya. Utamanya bagi seorang pemimpin bangsa.
Untuk itu, kenapa tema diatas saya angkat, hal ini supaya akan menjadikan pemikiran bersama, apa yang dicari, dicoba, dan dibuktikan itu, untuk senantiasa berpikir, bukan untuk dirinya sendiri melainkan, bagaimana sekiranya bisa bermanfaat bagi orang lain.
Selama ini, sering kali kita tidak mengerti artikulasi “mencari “ selain hanya secara tektual belaka. Dan bukan secara substansi yang terkandung didalam kata mencari itu sendiri. Sehingga, didalam pelaksanaan sampai pada tingkat membuktikan, benar-benar berakibat fatal. Bahkan, bisa pula menimbulkan vandalisme antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Contoh yang amat ringan, dan ada dalam kehidupan sehari-hari yakni : mencari uang, mencari kebenaran, mencari keadilan, mencari cinta, mencari kekuasaan, mencari kemasyhuran, mencari kedudukan, dan lain-lain. Contoh-contoh yang saya sebutkan ini, merupakan sesuatu yang salah kaprah. Dan sengaja pula saya memberikan contoh yang banyak dan beragam, agar bisa lebih jelas didalam memahaminya, bahwa contoh yang saya tulis ini merupakan pencarian yang salah. Apa sebabnya? Kata” mencari” bukan untuk hasil akhir atau tujuan akhir seperti contoh itu.
“Mencari” adalah merupakan “kata kerja” (verb) bukan adverb. Artinya, yang mempunyai kewajiban untuk mencari adalah “akal dan hati”, tidak bisa akal saja, atau hati saja yang mencari. Sebab, kedua perangkat manusia ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa berdiri sendiri. Jika akal saja yang mencari, akan mengarah kepada nafsu, yang lama kelamaan akan mengakali orang lain dengan segala rekayasa, bukan reka daya, yang mengarah kepada pembangunan manusia seutuhnya.
Jadi menurut hemat saya, apa yang kita cari itu adalah segala obyek yang asli ciptaan Tuhan, yang ada dialam semesta ini, khususnya dialam dunia. Kemudian setelah ketemu obyeknya, maka bagaimamana kita sebagai manusia, berusaha dengan segala akal dan pikirannya, dapat merubah menjadi ciptaan manusia. Inilah sebenarnya hakekat kata “ mencari” yang sebenarnya. Dengan begitu, kita sebagai manusia akan selalu belajar, membaca, dan mengamati, merenung, dan berpikir. Yang semula asli ciptaan Tuhan, menjadi ciptaan manusia, yang meniru sifat Tuhan itu sendiri, yakni “ mencipta”. Dan, hal inilah sebenarnya maksud dari hakekat manusia hidup didalam dunia ini, untuk senantiasa berpikir tentang Tuhan, dan segala ciptaanNya. Sebagaimana faedah selalu ingat kepada Allah, dan merenungi segala ciptaan Nya, agar manusia bisa mencipta dimuka bumi ini.
Didalam Surah QS. Ali Imran (3) ayat 190-191 yang berbunyi sebagai berikut :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Dengan demikian, bagi mereka yang senantiasa mau secara konsisten mencari, maka dia akan selalu berpikir. Kemudian, dari hasil pikiran itu nantinya akan berusaha untuk mencoba apa yang diketemukan, yang akhirnya ingin membuktikan menjadi suatu kenyataan. Selanjutnya, hanya bagi orang-orang yang selalu mencari, dan berpikir sajalah yang akan mendapatkan hasilnya.
Selama ini, diantara kita banyak yang hanya ingin mengambil jalan pintas tanpa mau mencari. Yaitu dengan cara meniru atau mencontoh orang lain. Akibatnya, apa yang dilihat bukan lagi pada kontekstual dan substansinya, melainkan secara tekstual, sesuai dengan sudut pandang disaat kita melihat orang lain saat ini, atau sekarang, dan bukan pada kejadian sebelum orang tersebut menjadi yang sekarang. Disamping itu, apa yang dilihat menurut akal dan pikiran belaka, yang penting ingin menjadi seperti orang tersebut saat pertama kali dilihat. Sehingga variabel yang dilaksanakan bukan merupakan hasil penemuannya sendiri selain hanya mencontoh saja. Tidak bisa menimbulkan pemahaman. Akhirnya yang sering terjadi, ditengah perjalanan menemui hambatan yang besar, kesusahan, penderitaan dan lain-lain. Seperti halnya disaat kita melihat orang lain kaya raya, kita ingin menirunya, tanpa berpikir apakah variabel yang harus dilalui ada kecocokan atau tidak.
Menurut hemat saya, bila kita hanya sekedar meniru saja tanpa memikirkan segala daya dan kemampuan yang kita miliki selain hasil akhir, akan menimbulkan segala cara akan dipakai. Tidak perduli terhadap harkat dan kaidah-kaidah yang dilanggar apa tidak. Yang penting, apa yang menjadi cita-cita bisa berhasil seperti orang yang dilihat itu sendiri. Sehingga yang terjadi, adalah seperti contoh-contoh diatas, antara lain mencari uang. Padahal mestinya bukan uangnya yang dicari, melainkan bagaimana kita bisa menciptakan suatu obyek ciptaan Tuhan, menjadi ciptaan kita sendiri sebagai manusia, kemudian ditukarkan dengan uang. Itulah yang terpenting. Jika mencari uang, lantas uangnya siapa yang akan dicari? Apa menunggu, atau mengharap agar suatu ketika ada uang jatuh? Dari langit, atau ada uangnya orang lain yang tercecer dijalan? Dan lebih keliru lagi bila kita sebagai penjual, kemudian Tuhan yang disuruh membeli apa yang kita kehendaki. Dalam artian, kita berbuat kebaikan dan Tuhan disuruh menggantinya dengan apa yang kita kehendaki. Ini lebih salah kaprah lagi. Ini sering terjadi disaat saya menyuruh seseorang untuk infaq pada fakir miskin. Dan saking yakinnya, bahwa apa yang telah diperbuat atau harta yang telah diinfaq kan itu akan diganti oleh Tuhan, sebelum apa yang diinginkan berhasil, sudah berani berhutang dahulu, padahal uang untuk membayarnya jelas-jelas tidak ada. Melainkan, didalam hati dia meyakini nanti akan mendapatkan uang seperti yang dikehendaki disaat mereka infaq. Dengan begitu, berarti kita telah memaksa Tuhan untuk membeli. Padahal kalau kita memang ingin berdagang dengan Allah, mestinya kita sebagai pembeli, dan Tuhan sebagai penjual, bukan malah dibalik, kita penjual dan Tuhan sebagai pembelinya, dengan harga kita yang menentukan. Lucu sekali.
Jadi, kesimpulan dari tulisan saya ini, adalah bagaimana kita selalu mencari segala obyek ciptaan Tuhan. Semakin banyak yang kita cari, akan semakin banyak pula yang akan kita ketemukan. Dan semakin banyak yang kita ketemukan, akan semakin banyak pula tantangan dan hambatannya, yang tentunya akan semakin banyak pula kita ingin mencoba, dan membuktikan menjadi suatu penemuan kita. Intinya, kita akan selalu aktif stelsel menjadi manusia, bukan pasif stelsel yang dilakukan sebagian besar orang-orang disekelilingnya. Dan supaya kita tidak salah jalan, serta tidak akan menggunakan segala cara didalam menentukan variabelnya, maka hati manusia harus pula dilatih, agar selalu berada pada jalan yang benar. Dan bukan lagi mencari variabel sendiri, melainkan akan mencari variabel yang sudah ditentukan secara berimbang, yang disediakan oleh Tuhan itu sendiri terhadap jenis obyek apa yang dicari. Masing-masing orang tentu amat berbeda variabel yang harus dijalani, tergantung dari faktor pendidikan, sifat, dan kodrat, serta budaya. Sehingga, bila melihat orang lain kaya raya, kita tidak akan iri, dan ikut-ikutan mencari kekayaan, dengan segala cara, tidak perduli halal atau haram yang penting berhasil.
Demikian, dan semoga bermanfaat
Betul sekali Romo dan kali ini saya No Comment karena semuanya sudah gamblang. terimakasih atas bimbingannya Romo dan putri Romo ini akan selalu mengharapkan bimbingan dari Romo.
BalasHapus