Pada dekade ini, hubungan antara laki-laki dan perempuan, sudah begitu terbuka serta penuh kebebasan, tidak saja terbatas pada kalangan remaja saja, akan tetapi dikalangan orang tua juga demikian. Sehingga kebebasan pergaulan yang bukan muhrim makin semarak. Free sex, free love sudah bukan merupakan rahasia lagi untuk dilakukan terhadap kedua lawan jenis sebelum ada ikatan suami istri. Bahkan, konon banyak pula siswa siswi sejak dari menengah pertama sampai perguruan tinggi, sebagian besar tentu pernah melakukan libido atau hubungan sex sebelum nikah. Dan, seluruh aturan-aturan atau norma-norma agama, yang walaupun begitu ketat melarangnya dan ada ancaman neraka karena melakukan zinah, akan tetapi makin hari justru bukan makin berkurang, melainkan justru makin semarak. Perdagangan perempuan semakin menjadi-jadi, bahkan didaerah yang mayoritas beragama menjadi tontonan setiap hari di televisi. Ironis, justru kejadian itu berada dimana asal mula agama itu terlahir. Adanya hukuman rajam, bukan menyurutkan nyali mereka, malah makin lama, makin menjadi-jadi termasuk adanya pemerkosaan. Kenapa hal itu terjadi ? Jawabnya adalah karena mereka tidak mengerti hakekat hubungan sex selaku makhluk manusia.
Lewat tulisan ini, saya akan mencoba mengupas dari sudut pandang metafisika, tentang apa maksud dan tujuan hubungan sex, antara laki-laki dan perempuan itu sebenarnya.
Hubungan sex bagi makhluk manusia, antara laki-laki dan perempuan adalah semata-mata bertujuan untuk menyatukan antara Karakter dan Dzat dari Tuhan agar bisa menjadi Kodrat, antara karakter dan energi murni, antara Sukma( /Jiwa/Atma/) dengan Ruh(nyawa, spirit/), sehingga makhluk manusia tetap berada dalam keadaan murni seperti sedia kala saat diturunkan kemuka bumi sebagai khalifah. Dengan senantiasa melakukan hubungan sex, sebenarnya bukanlah masalah ragawi, tetapi lebih mengarah pada masalah batini, sehingga akan mewujudkan sukma sejati dan guru sejati yang menyatu dalam diri manusia.
Karena sifatnya adalah untuk mewakili eksistensi Tuhan itu sendiri, satu-satunya jalan untuk dapat mencapai tingkatan penyatuan diri itu, dibutuhkan rasa Kasih dari yang melakukan hubungan libido atau sex, sebagaimana karakter Tuhan yang Maha Kasih. Dan, supaya rasa kasih itu timbul pada kedua pihak baik laki-laki maupun perempuan, dibutuhkan dalam keadaan suci, dan dalam keadaan sakral. Sebab, didalam proses hubungan sex, mau tidak mau, suka maupun tidak, percaya ataupun tidak, akan terjadi penyaluran Karakter dan Dzat Tuhan kedalam diri manusia sebagaimana asalnya.
Disamping itu, diharapkan tidak terjadi kontaminasi dengan karakter makhluk, khususnya hal-hal yang negatif pada saat berlangsungnya down load tadi. Dan puncak dari down load energi tadi, adalah disaat keduanya telah mengalami orgasmus luar dan dalam, serta seluruh jiwa keduanya akan melebur menjadi gabungan Karakter dan Dzat Tuhan kedalam Kodrat, yakni manusia Adam ketika masih belum ada istrinya yang bernama Siti Hawa, yang berisi ether atau hawa murni, dan itu merupakan artikulasi hakiki, sebagaimana pertemuan antara YIN dan YANG(dalam bahasa cina).
Lalu apa yang terjadi bila hubungan sex secara terus menerus tanpa adanya Kasih? Ini akan menyebabkan bila menimbulkan kodrat baru yakni anak, maka anak yang dilahirkan ada kecenderungan akan lahir dengan jenis kelamin perempuan. Dan saya mempunyai kesimpulan; bahwa dewasa ini lebih banyak anak perempuan dibandingkan jumlah anak laki-laki, disebabkan oleh adanya hubungan yang tanpa rasa kasih selain cinta asmara belaka. Kita tahu bila jumlah antara anak perempuan dan anak laki-laki tidak seimbang, serta semakin jauh jarak ketidak seimbangan itu, akan membuat dekadensi moral semakin meraja lela, akan bertebaran para janda, dan banyak pula yang tidak ada kesempatan untuk menikah, dan banyak pula lelaki yang istrinya lebih dari satu, bisa dua, tiga, bahkan ada pula yang saya dengar istrinya sampai sembilan, juga yang masuk dalam guinness book ada seorang laki-laki yang istrinya sampai seratus. Mengapa demikian?
Karena pada umumnya perempuan itu eksistensinya ada dibelakang layar. Sementara pada dekade ini lebih ada kecenderungan para perempuan sudah enggan berada dibelakang layar, serta lebih menyukai ada didepan layar mengikuti jejak para laki-laki, yang dalam istilah modern dikatakan persamaan gender.
Karena pada umumnya perempuan itu eksistensinya ada dibelakang layar. Sementara pada dekade ini lebih ada kecenderungan para perempuan sudah enggan berada dibelakang layar, serta lebih menyukai ada didepan layar mengikuti jejak para laki-laki, yang dalam istilah modern dikatakan persamaan gender.
Sehingga tidak heran, dan amat masuk akal bahwa tanda-tanda kiamat, jika perempuan untuk menarik perhatian laki-laki( karena khawatir tidak mendapatkan jodoh) lantas berbuat yang tidak senonoh, baik cara berpakaian, bersikap dan perilaku, agar supaya dapat segera mendapatkan pasangan. Ini merupakan kenyataan yang tidak bisa dibantah, karena jumlahnya memang tidak seimbang. Serta masih banyak pula contoh yang menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak yang berada diluar rumah dibandingkan jaman dahulu, sehingga kenapa didalam agama diwajibkan para perempuan menggunakan jilbab atau cadar penutup wajah. Hal itu adalah untuk menjaga agar tidak gampang menarik perhatian para laki-laki agar tidak menggodanya selain karena cinta kasih itu sendiri.
Jadi adanya perkawinan, semata-mata untuk kemurnian cinta kasih yang ada didalam kedua makhluk manusia yang berlainan jenis. Bukan masalah sah dan tidaknya hubungan sex diantara keduanya. Serta, bukan masalah surat nikah yang dimiliki, atau disaksikan oleh orang banyak dan lain-lain. Namun sejatinya, agar didalam hubungan sex itu, harus melewati satu-satunya variabel yakni rasa kasih itu sendiri. Sebab, bisa saja mereka yang menjalani rumah tangga, tidak didasari oleh rasa kasih, selain hanya karena sesuatu hal, karena terpaksa atau hal-hal lain. Jika ini yang terjadi, akan menyebabkan warna dari kodrat yang dihasilkan dari hubungan sex tidak akan sempurna, sebagaimana yang diharapkan. Sebab yang muncul didepan adalah nafsu.
Kita tahu, bahwa manusia memang memiliki nafsu, akan tetapi apabila kita ingin mendapatkan energi murni, harus menyediakan karakter massa agar ada energi positif yang masuk kedalam diri kita. Bukankah diantara makhluk Tuhan yang tidak memiliki nafsu adalah Malaikat? Dan bukankah kita juga tahu, bahwa Malaikat itu adalah utusan Tuhan dibidang positif? Lalu, bagaimana mungkin akan ada energi Tuhan lewat perantaraan Malaikat akan bisa masuk kedalam diri kita, kalau didalam hubungan sex, nafsu ada didepan. Jadi, hubungan sex adalah satu-satunya variabel yang mudah sekali untuk bertemu dengan eksistensi Tuhan kedalam jiwa secara murni.
Sebagaimana bunyi QS. Al Baqarah(2) ayat 223. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
Kata-kata yang saya tulis tebal untuk kita renungi bersama, apa maksud dari ayat-2 itu. Dan bukan berarti; dengan adanya ayat tersebut lantas kita sesukanya mau berhubungan sex, seperti orang dari negara-negara western, yang secara bebas melakukan, bahkan secara bebas pula dipertontonkan pada orang-orang lain, seolah sex adalah permainan, atau untuk kesenangan belaka. Sehingga, kenapa didunia timur hal itu merupakan tabu? Itu karena sex sifatnya sakral, dan sex adalah untuk membuang energi negatif dari kontaminasi yang merasuk kedalam raga, serta menggantikan dengan energi murni. Dengan begitu, jati diri manusia akan nampak semakin jelas. Bukan malah sebaliknya, melepaskan energi tanpa untuk mendapatkan apa-apa, selain hanya rasa puas. Alih-alih kita akan mendapatkan energi positif, dan menemukan jati diri manusia, atau lebih jauh bisa bertemu Tuhan. Salah-salah, justru energi itu akan berbalik menghantam kita sendiri. Apalagi bila lantas muncul kodrat baru, yakni terlahir sebagai anak-anak manusia.
Terakhir, apabila kita ingin melakukan hubungan sex, sucikan dahulu diri kita, renungkan dengan dalam, masukkan kedalam diri kita rasa kasih, sebagaimana Karakter Tuhan( bukan asmara). Dengan begitu, akan nampak berbeda sekali, dan begitu pula buang seluruh rasa apapun, selain hanya kasih dan kasih. Karena hanya dengan kasih saja semua energi yang kita butuhkan masuk dengan benar, sehingga seolah-seolah kita menyatu dengan Tuhan itu sendiri.
Semoga bermanfaat.
yang nyata
BalasHapusYang nyata, dalam hubungan libido itu sudah tidak ada lagi istilah nikmat dan yang sejenisnya, akan tetapi yang muncul justru kedamaian, yang puncaknya adalah menuju pada kekosongan. T.kasih atas komentarnya.
BalasHapussmua tergantung dari sudut pandang kita masing2,..kadang manusia lebih mengandalkan logika yang mungkin bisa di anggap benar dr setiap masing2 individu.
BalasHapusShandy A W: Adanya sudut pandang yang berbeda pada masing-masing orang itu, lantaran adanya logika pada masing-masing orang yang juga berbeda. Sepanjang pendapat yang dikeluarkan itu dapat dibuktikan didalam perbuatan oleh orang itu sendiri, dan ditemukan kebenarannya maka itulah kebenaran. akan tetapi yang menjadi masalah adalah, dia merasa bahwa apa yang dilakukan itu benar, pada umumnya lantas disebarkan pada orang lain agar mempunyai pikiran yang serupa dengan dirinya. Justru hal inilah sebenarnya yang salah. Apalagi bila yang menyampaikan itu adalah orang yang mempunyai pengaruh dimasyarakat. Sehingga, yang semula masing-masing orang diberikan akal dan pikiran untuk berlomba mencari kebenaran, akhirnya terhenti dan disuruh ber kiblat pada orang yang punya pengaruh itu didalam mengartikan kebenaran itu sendiri. Dari hal inilah yang justru akan menimbulkan penyebab terjadinya benturan kepentingan antara pendapat orang yang satu dengan yang lain. Apalagi bila masing-masing orang itu sama-sama mempunyai pengaruh. T.kasih atas komentarnya.
BalasHapusSetuju Mas Tris. Uraian yang sangat logis dan masuk akal.
BalasHapus