Setiap orang tentu akan mempunyai pemikiran yang sama, bahwa jika kita melihat seseorang yang bunuh diri, dianggapnya orang itu telah putus asa, sehingga mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya. Bahkan didalam beberapa agama, dilarang keras untuk bunuh diri, dan dikatakan, bahwa bunuh diri itu merupakan kematian yang mendahului kehendak Tuhan, sehingga dianggap berdosa besar, serta akan masuk neraka.
Dalam kasus tertentu, bunuh diri bukan merupakan suatu hal yang ditakuti, walaupun sudah diancam dengan dosa besar, karena ada yang lebih ditakuti jika orang itu tidak bunuh diri. Antara lain, karena merasa malu jika rahasianya terbongkar, atau akan membahayakan pihak lain, jika tidak mati. Seperti yang dilakukan oleh para tentara, ketika ditangkap oleh musuh. Sementara disisi lain, bisa juga dianggap sebagai kebudayaan dari masyarakat tertentu, seperti halnya “harakiri” bagi masyarakat di Jepang. Dimana harakiri itu dilakukan, adalah sebagai penebus dosa, serta merupakan pertanggung jawaban terakhir, dari kegagalan tugas yang dibebankan kepadanya, agar tidak dikatakan sebagai seorang pengecut yang lepas dari tanggung jawab.
Terlepas dari permasalahan diatas, ada hal yang menarik untuk kita amati, dan kita renungkan tentang bunuh diri ini. Disatu sisi, bunuh diri dilakukan karena ingin lepas dari tanggung jawab. Sementara disisi yang lain, bunuh diri terpaksa dilakukan, karena ingin bertanggung jawab yang lebih besar. Yang satu sisi merupakan klimaks, sedangkan disisi yang lain merupakan anti klimaks.
Kita pasti menyadari, bahwa mati dan hidup manusia ditentukan oleh Tuhan. Dan seseorang tidak akan mungkin hidup atau mati, jika tidak dikehendaki oleh Tuhan. Termasuk bunuh diri itu sendiri, pasti dikehendaki oleh Tuhan. Apa bedanya dengan mati kecelakaan, mati dibunuh orang, atau mati secara normal, apa mungkin bisa terjadi jika tidak dikehendaki Tuhan?
Namun yang menarik, khusus kematian yang disebabkan bunuh diri, mengapa tetap dikatakan “dosa besar”, jika semua dikehendaki oleh Tuhan? Berarti, ada pesan tersembunyi yang disampaikan Tuhan, bukan terhadap kematiannya, melainkan terhadap frasa “bunuh diri” itu sendiri.
Sebagaimana yang sering saya tuliskan beberapa waktu yang lalu, bahwa perangkat manusia itu ada 2; yakni manusia lahir dan manusia batin, yang dilengkapi otak di kepala, dan otak yang ada didalam hati. Otak dikepala, memiliki tugas untuk memenuhi kebutuhan dari manusia raga, atau yang sering saya istilahkan untuk menciptakan sesuatu dari “ada” yang satu, menjadi “ada” yang lain. Atau dari empirik yang satu, menjadi empirik yang lain. Sedangkan otak yang berada didalam hati, untuk menciptakan dari “sesuatu yang tidak ada”(non empirik) menjadi “ada”(empirik). Disamping itu, didalam diri manusia memiliki 3 kategori ego(diri), yang meliputi sebagai berikut:
1. Ego didalam Ruh(yang membawa bibit karakter Tuhan). Ego ini adalah yang memberikan energi sehingga manusia bisa hidup, yang berfungsi seperti baterai ;
2. Ego yang ada didalam jiwa( sebagai karakter pengendali). Ego ini tugasnya adalah untuk mengendalikan segala rasa yang ada. Dan berguna untuk melakukan suatu kehendak dari manusia, dengan memerintahkan hati, agar mengisi seberapa besar kebutuhan energi yang ditampung demi kebutuhan nafsu manusia;
1. Ego didalam Ruh(yang membawa bibit karakter Tuhan). Ego ini adalah yang memberikan energi sehingga manusia bisa hidup, yang berfungsi seperti baterai ;
2. Ego yang ada didalam jiwa( sebagai karakter pengendali). Ego ini tugasnya adalah untuk mengendalikan segala rasa yang ada. Dan berguna untuk melakukan suatu kehendak dari manusia, dengan memerintahkan hati, agar mengisi seberapa besar kebutuhan energi yang ditampung demi kebutuhan nafsu manusia;
3. Ego yang berada di hati. Tugasnya adalah untuk menampung, sekaligus menyaring segala energi dari luar tubuh. Baik energi materi, maupun anti materi, empirik maupun non empirik. Kemudian, bermacam-macam energi itu diolah, dari mentah menjadi setengah matang, dan dialirkan menuju nafsu. Kemudian, nafsu akan mengalirkan menuju otak kanan manusia, agar dikemas menjadi enerji yang sudah siap saji. Dan dari otak kanan, dialirkan lagi menuju otak kiri agar menjadi materi.
Ketiga ego ini saling melengkapi, dan tidak bisa salah satunya tidak berfungsi. Dan merupakan satu kesatuan, yang apabila tidak ada, akan menyebabkan kecelakaan bagi eksistensi manusia itu sendiri.
Contohnya : Jika ego didalam Ruh tidak ada, padahal Ruh ini yang membuat manusia hidup, berarti saat itu manusia akan mati. Jadi Ruh ini merupakan listrik bagi manusia untuk tetap hidup, yang sering pula dikatakan “nyawa”( terpengaruh dari bahasa daerah yakni bahasa jawa).
Jika ego yang ada didalam jiwa tidak ada, siapa yang akan mengendalikan segala rasa yang ada didalam nafsu, sesuai dengan kehendak dari manusia? Serta, siapa yang akan memerintahkan ego yang berada didalam hati? Dan dengan adanya kendali jiwa terhadap keluar masuknya energi ini, juga harus selalu memberikan keleluasaan pada hati untuk berpikir, serta memberikan energi secukupnya kepada “hati”. Sehingga hati manusia bisa tepat guna didalam menyaring energi yang masuk, dan tetap menjaga agar hati manusia tidak sakit, serta bisa melaksanakan sebagaimana fungsinya.
Begitu pula jika ego yang ada didalam hati tidak berfungsi, lalu siapa yang akan menampung, serta menyaring berapa jenis, dan jumlah energi yang dibutuhkan oleh nafsu, sedangkan tempat penampung energi tidak berfungsi? Jika ego didalam hati manusia tidak berfungsi, seluruh energi dari luar tubuh akan masuk kedalam nafsu, masih tetap mentah tanpa disaring, tanpa dihitung berapa besar dan berapa jenis energi yang dibutuhkan.
Dari alasan-alasan diatas ini, bisa ditarik kesimpulan, bahwa peran ego yang paling dominan bagi manusia itu, adalah “ego yang berada didalam hati”, agar manusia bisa menjadi baik dan sempurna.
Jika ego didalam hati manusia tidak berfungsi, atau tidak pernah diberikan kesempatan untuk melaksanakan perannya, lambat laun ego ini akan mati. Serta tidak bisa memberikan gelombang getaran, seperti sedia kala saat diciptakan. Lalu bagaimana hati akan bisa melihat, membaca, mendengar, serta bisa menuruti perintah ego didalam jiwa? Yang ada, hanya tinggal seonggok daging yang tidak bermakna. Selain hanya sebagai kelengkapan tubuh manusia belaka, namun sudah mati, dan tidak dapat berfungsi apa-apa.
Segala hal yang menyebabkan kematian ego didalam hati manusia, adalah segala yang berkaitan dengan kepentingan raga manusia yang bersifat empirik, dan dipaksakan untuk diterima oleh hati. Sehingga energi yang dipaksakan masuk, tidak akan sesuai dengan kepentingan hati itu sendiri. Dengan begitu, sama halnya jiwa tidak pernah menuruti apa yang menjadi kebutuhan hati, melainkan keinginan nafsu. Apa yang menjadi keinginan nafsu, harus pula diterima menjadi kebutuhan hati. Untuk lebih jelasnya, baca kembali tulisan mengenai “ akal adalah cahaya hati”.
Jadi, yang dimaksud dengan bunuh diri, adalah jiwa manusia telah membunuh ego yang ada didalam hati. Dan jika ego yang ada didalam hati telah dibunuh, secara substansi seonggok daging yang bernama hati tidak berfungsi, akhirnya orang tersebut akan kehilangan hati nurani. Jika seseorang yang telah kehilangan hati nurani, bisa saja seseorang itu membunuh dirinya sendiri, sehingga mengakibatkan kematian, yang tidak menyebabkan kerugian apapun. Sekarang ini banyak yang terjadi, dirinya tetap hidup, tetapi dengan hati nurani yang dimatikan. Akhirnya akan menyebabkan banyak korban yang celaka, ribuan bahkan jutaan orang yang dibunuh. Baik langsung maupun tidak langsung, telah pula mematikan jalan kehidupan orang lain. Jika sudah demikian, mereka pantas bunuh diri secara nyata, atau bila perlu dipidana dengan hukuman mati, sebelum mematikan orang lain.
Kesimpulannya : bahwa arti substansi dari “bunuh diri” adalah bagi mereka yang sengaja maupun tidak telah mematikan ego yang ada didalam hati manusia, sehingga akan menyebabkan kematian hati nurani. Dan manusia yang kehilangan hati nurani, maka akalnya akan mati, jika akalnya mati, lantas apa bedanya dengan binatang ternak yang melata?
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar