Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 20 Juni 2012

SEMIOTIKA DIBALIK MENDERITA DAN BAHAGIA




                Pada umumnya disaat seseorang merasakan hidup penuh penderitaan, mereka tidak pernah berpikir kenapa mereka menderita, selain  hanya merasakan penderitaannya. Begitu pula disaat merasakan kebahagiaan, mereka sering kali terhanyut akan kebahagiaan yang dirasakan. Padahal, kedua perasaan itu baik menderita maupun bahagia, tidak langsung datang secara tiba-tiba. Semua melalui proses yang awalnya dari kehendak maupun keinginan. Dari titik awal ini kemudian berkembang menjadi sedih dan gembira lantas bisa berbuah menjadi susah dan bahagia. Kesedihan yang berlarut-larut karena apa yang menjadi kehendak atau keinginan tidak tercapai menjadi kenyataan akan berakibat pada kesusahan. Begitu pula sebaliknya, jika rasa gembira yang dirasakan semakin bertambah karena apa yang menjadi kehendak atau keinginan tercapai, akan berbuah menjadi kebahagiaan. Kegagalan demi kegagalan bisa menimbulkan penderitaan. Keberhasilan demi keberhasilan yang dicapai akan membuat kehidupannya penuh kebahagiaan.  Bahkaan kedua perasaan ini baik menderita maupun bahagia jika melampaui batas bisa menimbulkan mala petaka.


                Tetapi tahukah kita, bahwa sesungguhnya baik penderitaan dan kebahagiaan itu hanyalah merupakan variable atau hanya sekedar jembatan bagi manusia untuk mengisi kehidupan yang ada didunia ini? Dan tahu pulakah, bahwa kedua keadaan dari warna perasaan itu adalah merupakan petunjuk yang masih mentah dari Tuhan agar kita mau merubahnya, dan tidak hanya sekedar kita terima dan kita rasakan belaka?


                Didalam beberapa tulisan saya yang terdahulu sering saya singgung tentang susah dan bahagia ini, yakni bila seseorang merasa susah dan bahagia, menunjukkan bahwa pada saat itu orang tersebut mengalami ketidak seimbangan didalam perasaannya. Dengan adanya ketidak seimbangan, maka terjadilah warna perasaan susah dan bahagia. Jika terjadi ketidak seimbangan didalam perasaan, maka tugas manusia harus berusaha agar mengembalikan perasaan kembali seimbang.

Usaha yang pertama kali harus dilakukan adalah dengan berpikir. Dengan berpikir akan mengeluarkan energi. Dengan energi diharapkan manusia akan bergerak untuk mengambil langkah dan tindakan. Dan supaya tindakannya benar, maka manusia harus berpikir tentang Tuhan, karena seluruh alam semesta baik tingkat atomik maupun makro kosmostik digerakkan oleh Tuhan itu sendiri. 


Jika manusia tidak berpikir manusia tidak akan bergerak, jika tidak bergerak, lalu bagaimana kita akan mengikuti gerakan seluruh alam semesta. Bisa jadi manusia itu akan terseret arus gerakan alam semesta dengan tidak disadari, sehingga akan menyebabkan manusia akan semakin mengalami penderitaan yang lebih mendalam bagi mereka yang mendapat semiotika kesedihan(negative), dan bagi mereka yang terhanyut akan kebahagiaannya, maka perasaannya akan terlempar kedalam dunia antah berantah serta membabi buta terhadap nafsu serakah yang secara terus menerus sampai kematiannya tiba. Padahal kita tahu bahwa segala apa yang ada di dunia ini hanya illusi dan bukan hidup yang sesungguhnya. Lantas apa jadinya jika nafsu tidak bisa dikendalikan? Padahal diciptaakannya nafsu pada diri manusia hanya sekedar alat untuk melengkapi manusia didalam mengatasi hidup di dunia illusi. Dan jika nafsu tidak dapat dikendalikan maka akan menimbulkan bencana tidak hanya pada diri sendiri maupun pada orang lain. Akan tetapi bisa merambah kepada bencana pada alam sekitar serta alam semesta yang semula tertata secara seimbang, kemudian manusialah yang membuat ketidak seimbangan tadi.


                Kembali pada judul diatas tentang “ Semiotika dibalik menderita dan bahagia” adalah sebagai berikut :

Pada saat seseorang mengalami kesusahan dan penderitaan, kesenangan dan kebahagiaan, semata-mata adalah merupakan petunjuk langsung bahwa betapa cintanya Tuhan kepada kita agar kita tidak terpuruk semakin jauh didalam kehidupan dunia yang serba penuh dengan illusi atau kepalsuan. Namun demikian, dengan diberikan kesusahan dan kebahagiaan adalah merupakan bekal bagi manusia guna menjalani hidup yang sekarang ini sampai kematian tiba, bahkan juga merupakan bekal didalam hidup di alam setelah kematian atau pada kehidupan yang akan datang.


Disaat Tuhan memberikan penderitaan, adalah merupakan batu ujian agar kita berpikir sehingga akan memiliki tabungan energi yang bisa kita jadikan materi didalam memenuhi kebutuhan kita didunia. Supaya kita bisa berpikir, kita tidak boleh terhanyut didalam penderitaan itu, melainkan bertanya  yang antara lain :“ Apa maksud Tuhan memberikan penderitaan”? Apakah saya salah didalam memilih antara variable dan hasil akhir, ataukah karena keduanya saya ambil semua antara variable dan hasil akhir?” Dengan berpikir seperti ini, semakin lama kita akan semakin tenang, dan semakin menerima keadaan warna perasaan yang kita alami.  Dan dengan ketenangan maka pikiran kita akan dituntun menuju keadaan “ anti energi” dan  membuka tabir hikmah yang tersembunyi dibalik penderitaan yang kita alami. Dan bukankah kita tahu bahwa berpikir itu adalah energi? Sehingga pertemuan antara “ anti energi” dan kumpulan energi yang dihasilkan dari berpikir ini, akan berbuah menjadi kekuatan yang dahsyat untuk memunculkan suatu intuisi, atau suatu ide atau gagasan, yang akhirnya menjadikan sebuah rencana menuju tindakan atau perbuatan untuk mencipta, yang bisa menghasilkan suatu karya. Dan selanjutnya dari karya bisa dijual, sehingga bisa mencukupi kebutuhan kita guna menunjang hidup dan kehidupan kita sampai kematian tiba. Jadi jika “anti energi dan energi didalam diri “ disatukan,  akan menghasilkan materi untuk kehidupan didunia saat ini.


Jika seseorang berkali-kali mengalami penderitaan, mestinya kita bersyukur, apalagi jika jenis penderitaannya selalu sama, dimana kita selalu mendapat ujian yang soalnya sama, Tetapi anehnya kenapa selalu tidak lulus dan tetap saja menderita. Semua itu karena kita kurang jeli menangkap semiotika Tuhan. Dan jika warna penderitaan yang dibebankan kepada kita selalu berganti-ganti, bagi seseorang yang selalu berpikir tentang Tuhan, akan semakin bahagia karena diuji terus menerus, sehingga energi yang kita kumpulkan akan semakin banyak untuk menjadikan suatu kekuatan didalam mencipta dari tidak ada menuju ada yang kemudian kita wujudkan menjadi materi, yang mungkin hasil energinya bisa berlebihan sehingga tidak akan habis walaupun kita sudah meninggal, sehingga anak cucu kita bisa merasakan perubahan bentuk energi menjadi materi yang dikatakan kekayaan dunia.


Selanjutnya disaat seseorang mengalami kesenangan, dan kebahagiaan bukan sekedar untuk dinikmati, tetapi harus juga dipikirkan karena hal ini juga merupakan ujian, yang antara lain sebagai berikut “ Apa maksud Tuhan memberikan kesenangan dan kebahagiaan? Apakah karena saya tepat didalam memilih antara variable dan hasil akhir? Dan apa yang harus saya perbuat? Siapakah yang harus saya bantu agar bisa memperoleh kebahagiaan seperti yang saya rasakan?

Dengan berpikir seperti itu, maka perasaan kita akan tertuntun untuk tidak terikat akan duniawi, atau berada didalam keadaan “ anti materi”. Dimana kita senantiasa merasa tidak memiliki, dunia hanyalah illusi, kita tidak merasa kehilangan terhadap segala sesuatu yang datang dan pergi. Hal ini karena kita sudah tidak terikat, akan warna perasaan apapun yang terjadi pada diri kita dan sekitar kita. 


Jika perasaan “ Anti materi” senantiasa terpatri didalam diri kita, akan menghasilkan keindahan. Selanjutnya jika “anti materi” menyatu dengan “ Keindahan”, akan menghasilkan “ Kedamaian”. Jika “ Keindahan” menyatu dengan “ Kedamaian”, akan menghasilkan “ Kekosongan” yang lambangnya adalah “ NOL”. Dan kita tahu bahwa lambang NOL merupakan lambang  “ada tapi tidak ada”, dan didalam tidak ada, sesungguhnya mengandung isi yang tidak terhingga. Dan jika seseorang sudah sampai pada tingkatan ini, seluruh sikap prilaku dan tindakannya akan tersimpan didalam keadaan NOL yang wujudnya merupakan“TABUNGAN ANTI ENERGI” yang menjadi bekal kita pada kehidupan yang mendatang, atau kehidupan setelah mati.


KESIMPULANNYA :
Jika kita mengalami kesedihan, dan penderitaan, kita harus belajar menerima keadaan sambil bersikap prihatin dan berpikir mengapa Tuhan memberikan ujian penderitaan itu, karena dari sini merupakan bekal untuk menghidupi kita di dunia sekarang dimana kita tinggal.


Sebaliknya jika kita merasakan kesenangan dan kebahagiaan, kita wajib mensyukuri dengan melakukan suatu perbuatan, sambil berpikir siapakah yang harus saya bantu dan saya ajak untuk bersama-sama merasakan kebahagiaan seperti getaran kebahagiaan yang kita alami. Karena dengan tindakan dan perbuatan syukur, adalah semata-mata untuk menabung bekal kita dikehidupan mendatang setelah kematian. Semakin banyak yang ditabung pada kehidupan setelah mati, sama halnya dengan menabung surga. Penderitaan akan menciptakan surga dunia, sementara ungkapan dan tindakan rasa syukur akan menciptakan surga di akherat.


Jika kita salah menyikapi ujian penderitaan, kita akan mengalami neraka atau kesengsaraan di dunia, jika kita salah didalam menyikapi ujian kebahagiaan didunia, maka kita pasti akan mengalami neraka kesengsaraan di akherat. Kalau saya minimal akan memilih keduanya, yakni surga di dunia, juga syurga di akherat  pada kehidupan mendatang.


Semoga bermanfaat.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar