Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 06 Mei 2014

SEMUA ORANG BISA MEMBACA SEMIOTIKA



Hampir semua orang sering tidak menyadari bahwa dirinya bisa membaca semiotika. Padahal, semiotika itu senantiasa datang secara tidak terduga. Kenapa tidak bisa membacanya? Lantaran masing-masing orang terhanyut saat semiotika datang, serta sibuk didalam mengungkapkan pada warna perasaan masing-masing. Sehingga bukan makna semiotika apa, yang didapatkan. Melainkan malah memunculkan warna-warna perasaan baru, yang ikut mengaburkan arti sebenarnya yang datang, kemudian menutup semiotika yang seharusnya menjadi petunjuk.

Padahal, disaat ada suatu peristiwa seperti kasusnya Iqbal yang sekarang masih bergulir, amat gampang sekali untuk membacanya, selama kita masih memiliki hati dan perasaan.
Lihatlah terhadap pelaku dan korban, dan bukan hanya salah satu diantara keduanya.
Agar jika suatu saat hal itu terjadi pada lingkungan keluarga kita, atau bahkan terhadap diri sendiri, kita sudah dapat mengantisipasinya. Serta tidak kelimpungan, mengeluh, putus asa, dan lainnya.

Ditinjau dari sudut pelaku;

Jika semakin banyak orang, yang secara refleks membenci dia, mencaci dia, serta ikut marah walaupun kita tidak mengenalnya, itu adalah petunjuk. Bahwa pelakunya akan semakin cepat, serta semakin besar mendapatkan balasan dari apa yang diperbuatnya. Tergantung pada seberapa besar getaran, dan warna perasaan orang-orang yang melihat, dan mendengar peristiwa tersebut.

Jika ditinjau dari sudut korban;

Seberapa banyak masyarakat yang ikut terharu, menangis, kasihan dan lain-lain, itu juga petunjuk. Bahwa korbannya akan mendapatkan anugerah besar. Sebesar orang-orang yang terhanyut terhadap penderitaan korban.

Kenapa ini begitu cepat menjadi konsumsi publik?
Hal itu karena adanya  unsur kepasrahan dari korban, sehingga kasusnya terungkap.

Semiotika apa yang diperuntukkan bagi kita?
Adalah sebuah perenungan.

Bahwa anak balita yang umurnya 3, 5 tahun bisa pasrah, disaat setiap hari muncul penyiksaan, bahkan dijadikan mesin pencari uang untuk orang yang dewasa. Mengapa kita tidak bisa, padahal jangkauan kita lebih luas, pendidikan tinggi, banyak teman dan lain-lain. Hal itu, karena setiap kita ada masalah, terlalu banyak dipikir, dibandingkan untuk segera menjalankan apa yang menjadi buah pikiran.

Kalau saya rumuskan adalah : Tesa>> Hipotesa>> Analisa>> Sintesa.  Inilah yang menjadi kendala. Sehingga kebanyakan, semakin tinggi pendidikan seseorang, akan semakin banyak berteori, dan berputar-putar dibalik teori. Sehingga jarang sekali bisa mencapai hasil akhir atau sintesa. Seperti halnya mangkraknya kasus monorail di DKI jakarta.

Sementara, Iqbal, apa dia mengeluh? Saya yakin tidak. Sebab, andai mengeluh, lantas kepada siapa? Jangankan kepada tetangga yang notabene orang lain, sedangkan ibunya sendiri juga tidak menghiraukan. Demi mementingkan nafsu libidonya, rela mengorbankan anak yang telah dilahirkan sendiri. Dia tetap bersiap-siap untuk disiksa, serta harus selalu mencari uang. Dia tetap tinggal walaupun lengannya harus dipatahkan. Kepalanya harus dibenturkan pada tembok. Apa yang bisa dilakukan anak sekecil itu selain antitesa?

Akhirnya, terjadilah peristiwa itu, dan puncak penderitaannya, dia dimasukkan kedalam  surga kehidupan dengan didampingi para malaikat dan para  bidadari  untuk bergandengan tangan menyelamatkan Iqbal, sampai kelaknya bisa menyongsong mimpi-mimpinya untuk menjaring matahari kehidupan yang cemerlang.

 Intinya : jika Iqbal bisa melakukan antitesa, apa mungkin kita yang mengerti agama justru tidak bisa berlaku sama, yakni  pasrah apapun yang terjadi, adalah dengan motto : Que sera sera.

2 komentar:

  1. PERTANYAANYA ADALAH BAGAIMANA AGAR DIRI TIDAK SIBUK UNGKAPKAN PERASAAAN LAIN SHG BISA MENANGKAP SEMIOTIKA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Caranya adalah dengan tidak menilai apa yang dibaca. Tetapi lebih menekankan pada renungan terhadap apa yang dibaca, serta untuk melihat apa substansi dan essensi dari bacaan itu.

      Hapus