Lanjutan :...........
Seperti yang saya tulis kemarin, bahwa manusia hidup didunia ini, bagaikan menyelam didalam laut, atau hidup di dunia lain. Tentunya, harus banyak membaca, mencari pengetahuan, serta untuk mendapatkan pengalaman dari segala hal yang telah diperbuat. Dengan begitu, kita harus banyak menggunakan akal dan pikiran, guna semakin memperjelas, bahwa segala sesuatu yang kita butuhkan di dunia ini, akan selalu tersedia. Dan, cara belajar yang mudah, cepat dan tepat, adalah lewat pengenalankarakter Tuhan. Kita sebagai manusia, harus menyerap karakter Tuhan yang ada. Dan, bukan hanya dengan cara membaca, menghafal, membisikkan, ataupun dengan cara-cara lain, yang nota bene, hanyalah berupa kata-kata belaka. Tetapi, dengan tindakan yang nyata berbentuk perbuatan. Sehingga, manusia benar-benar merupakan refleksi dari cahaya Tuhan itu sendiri.
Jadi, bila kita mengharap agar Tuhan mengampuni, bukan berdoa berkali-kali tiap saat, tetapi sejak saat kita berdoa, maka sejak saat itu kita harus selalu belajar mengampuni, atau memaafkan seluruh kesalahan, yang telah diperbuat orang lain pada kita. Dan dengan berdoa, memohon ampun pada Tuhan, berarti kita harus mengingat-ingat, siapa saja orang-orang yang berbuat salah pada kita, agar dimaafkan. Sebab, amat aneh sekali kalau kita memohon ampun pada Tuhan, tetapi orang yang berbuat salah tidak diampuni. Bahkan, rasa dendam masih ada bila melihat orang-orang yang pernah berbuat salah, atau yang menyakiti hati kita. Jika kita mengharap Tuhan memberi, dan mengabulkan apa yang menjadi harapan, maka terlebih dahulu, kita harus senantiasa memberi pada orang lain yang tidak mampu, tanpa terkecuali, kita kenal apa tidak. Bila perlu disaat kita memberi, tidak harus saling kenal, tidak boleh saling tahu tempat tinggalnya, dan harus benar-benar, bahwa yang ditolong itu memang miskin, dan butuh bantuan. Jika kita membutuhkan agar dimudahkan, baik kekayaan maupun hal-hal lain, seperti halnya pangkat, derajat, serta ingin mudah mencari pekerjaan, maka kita juga harus selalu memberi kemudahan pada orang lain, serta tidak selalu mempersulit orang lain.
Jadi pada prinsipnya, kita haruslah melakukan segala apa yang menjadi karakter Tuhan, sehingga dengan demikian, saat kita ditimpa suatu persoalan, akan gampang menghadapi, sebab kita sudah sering melaksanakan karakter Tuhan. Tidak hanya sekedar tekstual belaka, melainkan sudah secara makna, untuk dijadikan karakter yang kita butuhkan pada saat-saat tertentu. Untuk lebih meyakini, saya menggambarkan, bahwa otak kiri itu bagaikan sebuah accu mobil, sedang otak kanan, bagaikan dynamo. Apabila suatu saat, accu tidak bisa hidup karena energinya habis, atau kurang, mobil perlu didorong untuk menjalankan dynamo, sehingga dengan demikian, accu yang semula kosong, akan kembali terisi, sepanjang accu masih bagus. Secara logika, saat mesin mati, maka accu tidak bisa difungsikan. Accu, hanya sebagai penghantar untuk menghidupkan mesin mobil saja. Selanjutnya, yang berfungsi adalah dynamo itu sendiri. Jadi, otak kiri hanya berfungsi untuk menghidupkan diri kita dari tidur. Setelah terbangun, kita harus memulai, atau mengawali, dengan suatu pekerjaan, dengan otak kiri, dibantu oleh panca indra. Apabila sudah berkarya, maka biarlah otak kanan yang merupakan dynamo itulah yang bertugas, sampai kita kembali tidur.
Otak kiri, hanyalah sebagai pembuka belaka. Namun perlu diingat, bahwa kita haruslah selalu berusaha, dan bekerja sesuai dengan tugas sehari-harinya. Tidak boleh bermalas-malasan. Dan bukan berarti, setelah berdoa, dan pasrah, lantas kita diam tidak bekerja. Seperti mobil baru, accunya baru, dan semuanya serba baru, tetapi bila tidak dipanasi sampai 1 minggu, tentu mesinnya tidak akan hidup saat mau dipakai. Begitu pula dengan bekerja, sama halnya dengan mesin kendaraan. Lambat laun stroom pada accu tentu akan habis, bila tidak dipergunakan sama sekali.
Dengan selalu merasakan, serta mengamalkan, karakter Tuhan pada setiap saatnya, kita tidak lagi menemui kesulitan, didalam menghadapi orang-orang disekitar kita. Khususnya didalam berinteraksi sosial dengan lingkungan. Bahkan, untuk menghadapi orang lain sekalipun, siapapun orang itu, apapun harkat dan martabatnya. Sebab, sesungguhnya untuk menghadapi karakter orang, hanya dengan cara memilih karakter Tuhan pada diri kita. Kira-kira, karakter Tuhan manakah yang bisa cocok, dan serasi, untuk menghadapi orang lain. Karena tidak seorangpun dimuka bumi yang mempunyai karakter sendiri, selain hanya merupakan salah satu refleksi dari karakter Tuhan.
Dari sinilah yang sering dikatakan, bahwa manusia itu tidak sempurna. Tidak lain, karena tidak seorangpun manusia, yang secara sekaligus, memasukkan seluruh karakterTuhan pada dirinya. Sebab, dengan begitu dia memposisikan dirinya menjadi Tuhan selamanya, padahal bukan Tuhan. Dan, seharusnya manusia hanya meniru karakter sebagai Tuhan, bukan menjadi Tuhan. Dan agar lebih jelas lagi, serta supaya tidak menimbulkan beberapa penafsiran yang menyesatkan, maka akan kami jelaskan apa yang dimaksud menjadi Tuhan, dan apa pula yang dimaksud sebagai Tuhan, adalah sebagai berikut :
MENJADI TUHAN
Seseorang yang selalu merasa berkuasa atas orang, atau kelompok lain, seringkali menunjukkan, bahwa dirinya berkuasa. Serta, selalu berkehendak agar orang lain menuruti kehendaknya. Baik dengan cara memaksa, atau menggunakan segala cara. Apabila kehendaknya tidak dituruti, akan memberi berbagai ancaman, supaya apa yang menjadi keinginannya bisa terwujud. Yang hal ini, amat berbeda sekali dengan karakter Tuhan yang sesungguhnya, yang tidak pernah memaksa. Prinsip pemaksaan diri seperti inilah, yang dikatakan bahwa dirinya MENJADI TUHAN. Adapun ciri-ciri orang yang berprinsip menjadi Tuhan adalah sebagai berikut:
1. Aku berkuasa, maka kalian harus menuruti apa yang aku perintahkan. Dan aku ingin begini, kalau kalian tidak menurut dan patuh apa yang aku perintahkan, kalian tahu sendiri apa akibatnya. Dan silahkan pergi sebelum aku usir. Aku banyak uang, segala sesuatu bisa aku miliki, jadi kalian jangan membuat Aku marah.
2. Kalau tidak ada Aku, kalian akan mati kelaparan, akulah yang membuat desa, kota dan negara ini menjadi maju, tanpa aku negara ini tidak berkembang.
3. Agama yang benar, adalah apa yang Aku katakan, selain itu adalah sesat, dan wajib dihukum, untuk itu Aku peringatkan agar agama yang kalian sebarkan itu dihentikan, kalau tidak, nanti tanggung sendiri akibatnya.
Serta, masih banyak lagi contoh-contoh seseorang atau kelompok-kelompok yang mempunyai karakter seperti diatas, yang baik disadari atau tidak, mereka telah memposisikan menjadi Tuhan. Intisari dari karakter yang berprinsip menjadi Tuhan adalah, segala sesuatu perbuatan yang selalu memaksakan kehendaknya pada orang lain agar dituruti perintahnya, demi kepentingan dia yang menyuruh, bukan demi orang yang disuruh.
SEBAGAI TUHAN :
Seseorang yang tidak pernah merasa berkuasa atas orang lain, walaupun orang tersebut punya kekuasaan dan kekayaan. Bahkan, didalam kehidupannya sendiripun selalu merasa tidak punya kekuasaan apapun. Selain hanya sekedar menjalani, bagaikan air mengalir. Adapun cirri-ciri orang yang sebagai Tuhan adalah sebagai berikut.
1. Orang tersebut tidak gampang kaget, serta tidak gampang merasa heran, terhadap sesuatu hal yang terjadi. Baik pada dirinya sendiri, maupun pada orang lain. Serta, tidak gampang mencela, ataupun memuji. Karena semua itu atas kehendak Tuhan belaka, sehingga hal itu bisa terjadi.
2. Segala sesuatu yang terjadi pada dirinya, maupun orang lain, baik itu berupa musibah, ataupun anugerah, adalah semata-mata karena merupakan hasil dari tanaman orang itu sendiri. Bahkan, sering pula merupakan petunjuk pada dirinya, bila suatu ketika melihat musibah terjadi didepannya. Seperti; kecelakaan, atau kesengsaraan, dan hal-hal lain, pasti merupakan semiotika (tanda-tanda) untuk dipelajari, kenapa hal itu nampak pada dirinya. Tidak terbatas apakah itu bermimpi, ada kecelakaan lalu lintas, ada bencana alam, termasuk hal-hal yang kecil seperti telinga berbunyi tidak lepas dari pemikirannya.
3. Apa yang ada didepannya, baik yang bisa diterima oleh panca indra, maupun tidak, akan menjadikan pelajaran baginya untuk selalu direnungkan. Kalau tidak, tidak mungkin semiotika itu hadir, kalau bukan untuk dipelajari. Bila semiotika itu berbentuk kebahagiaan, adalah merupakan petunjuk, dan bila berbentuk musibah adalah merupakan peringatan, agar dirinya jangan sampai berbuat seperti itu.
4. Bila petunjuk yang datang berbentuk musibah, kesusahan, persoalan-persoalan, bencana, maka dia akan menggunakan otak kirinya untuk berpikir. Dan bila petunjuk berupa hal-hal yang menyenangkan, kegembiraan, kebahagiaan dan sebagainya, dia hanya mengunakan otak kanan atau indra keenam, apakah itu benar anugerah?
Jadi pada hakekatnya, prinsip sebagai Tuhan adalah, kita sewaktu-waktu menggunakan karakter Tuhan yang menghidupkan seluruh makhluk. Adanya energi positif maupun negatif, adalah dari Tuhan itu sendiri. Sehingga, didalam mengantisipasi keadaan tersebut, haruslah dengan menerapkan karakter Tuhan. Selain itu, tidak ada yang bisa mengatasinya. Dan, bukankah karakterTuhan itu banyak sekali? Jadi, karakter Tuhan mana yang akan kita pakai, semua adalah tergantung dengan karakter Tuhan, yang ada pada orang lain, yang sedang kita hadapi.
Jelasnya, untuk menghadapi hal-hal tersebut diatas, adalah lewat latihan-latihan. Misal, suatu saat kita melihat ada orang yang memperkosa seorang perempuan. Setelah diperkosa, dirampok hartanya, lantas perempuan itu itu dibunuh. Apa pandangan kita? Biasanya saat melihat kejadian itu, kita lantas ikut menghujat, betapa kejam perbuatan orang yang bertindak melampaui batas. Bahkan, dikatakan itu adalah setan, iblis, sambil ikut pula marah-marah, dan seolah ada dendam kesumat, ingin pula membunuhnya. Juga, disaat ada pencuri, perampok yang tertangkap. Kalau kebetulan kita ada didepannya, rasanya ingin pula memukuli, seperti orang-orang lain. Lupa, bahwa kita sudah mengetahui, bila hal itu memang perbuatan setan, iblis dan sebagainya. Kalau sudah tahu, hal itu perbuatan setan, kenapa kita masih marah-marah, dan menghujat habis-habisan? Bukankah perbuatan yang keji itu memang perbuatan setan, iblis, dan sebangsanya? Adakah iblis, dan setan yang berbuat baik? Dengan begitu, seolah-olah tidak ada artinya Tuhan memberikan petunjuk kepada kita. Tentang dunia setan, dan iblis, memang untuk berbuat negatif, atau kejahatan Sehingga dengan ikut menghujat, serta marah-marah, kita tidak akan mendapat petunjuk tentang kejadian itu, karena focus pada dendam kesumat. sehingga adanya kejadian yang keji seperti itu, memang sengaja dipertontonkan pada kita agar bisa diambil hikmahnya. Dan Mestinya pula, segala hal yang membuat kita tidak menyukai perbuatan yang keji, anarkhis, dan sebagainya, adalah semata-mata untuk kita. Agar tidak berbuat seperti apa yang kita tonton itu. Bila kita ikut mencela, menghujat, bahkan memukulinya, berarti kita juga golongan dari setan dan iblis itu sendiri. Gambaran-gambaran seperti inilah sesungguhnya yang dapat dipakai menjadi pelajaran.
Dan yang lebih ironis sekali, adalah justru orang yang paling keras ucapan, dan hujatannya, biasanya dirinya juga sering berbuat seperti itu. Malahan bisa lebih keji dari apa yang dilakukan orang lain. Orang yang suka bergunjing, tentang kelemahan dan kejelekan orang lain, menunjukkan bahwa dirinya lebih pantas untuk digunjingkan. Bahkan, bagi saya perbuatan seperti itu, justru melebihi karakter Tuhan itu sendiri. Orang yang selalu berbuat seperti itu, baik yang suka menggunjingkan orang lain, menghujat, mencela, menghina, lambat laun mereka akan kehilangan iman dan keyakinannya, sehingga cepat atau lambat, akan menjadi orang yang pendengki. Dan perlu diketahui, bahwa untuk menjadi orang yang ikhlas dan pasrah, serta rasa syukur, membutuhkan kesabaran. Ketiga hal ini tidak bisa dikurangi salah satunya, sebab merupakan satu kesatuan. Kesabaran adalah untuk melatih otak kiri. Kenapa kesabaran ini dibutuhkan, hal itu supaya kita tidak gampang emosi, serta untuk membuat kita makin teliti, melihat pokok permasalahan yang dihadapi. Sehingga nantinya, disaat kita harus mengambil keputusan untuk melangkah, akan tepat pada sasaran. Khususnya, didalam memilih otak mana yang akan kita pakai, guna menyelesaikan permasalahan tersebut.
Bersambung...........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar