Seluruh penganut agama khususnya Islam pasti mengetahui, atau sedikitnya pernah mendengar bahwa manusia hidup didunia ini ada yang menciptakan yakni Tuhan. Tanpa ada campur tangan Tuhan manusia tidak akan bisa hidup. Karakter yang diciptakan, apalagi yang sempurna seperti manusia, secara hakiki tentu akan memiliki kesamaan dengan karakter yang mencipta. Dan, tidak mungkin apa yang diciptakan akan disia-siakan. Seseorang yang menciptakan sesuatu, tentu mempunyai visi dan misi, serta tidak mungkin akan mencipta begitu saja. Jika yang diciptakan lebih dari satu jenis, maka karakternya akan berbeda-beda antara jenis yang satu dengan yang lain, termasuk visi dan misinya juga tidak sama. Begitu pula Tuhan, yang telah menciptakan makhluk yang tidak terhingga jenis dan jumlahnya dialam semesta ini.
Didalam ajaran agama, manusia diciptakan dalam keadaan sempurna, untuk menjalankan visi dan misi Tuhan, yakni menjaga keseimbangan seluruh alam semesta, khususnya dimana manusia itu tinggal. Kenyataannya, manusia bukannya menjaga keseimbangan, melainkan menjadi perusak alam itu sendiri, dengan alasan untuk meniru karakter Tuhan yang maha Pencipta.
Karena tugas berat yang diemban manusia agar menjaga ekosistem alam semesta selalu seimbang, maka hampir seluruh karakter Tuhan ditanam kedalam diri manusia, lewat Ruh yang dilengkapi dengan jiwa. Namun demikian, bukan berarti seluruh karakter Tuhan itu harus dipakai oleh manusia. Atau diambil sebagian yang sesuai dengan keinginan nafsunya. Melainkan hanya sebatas apa yang menjadi kebutuhan, serta harus selalu mendapatkan bimbingan dari jiwa manusia itu sendiri. Sedang tugas jiwa agar punya wibawa, harus selalu mengunduh karakter Tuhan yang tersebar dialam semesta( makro kosmos), kira-kira karakter apa yang dibutuhkan, dan bukan apa yang diinginkan. Dalam hal ini, khususnya Islam mengajarkan agar kita selalu ingat, dan berpikir, serta merenung tentang Tuhan. Dengan membaca, dan menghafal secara berulang-ulang seluruh karakter Tuhan, agar karakter Tuhan itu merasuk kedalam dirinya. Kemudian dapat diterapkan pada kehidupan sehari-harinya, lewat sikap perilaku dan tindakan, seolah-olah apa yang dilakukan adalah atas kehendak Tuhan itu sendiri.
Dari seluruh karakter Tuhan, yang dominan harus kita lakukan adalah karakter “pemurah dan penyayang” dari Tuhan yang Maha Agung. Dua karakter Tuhan ini, harus menjadi implementasi pada kehidupan manusia setiap saat, khususnya didalam mengambil suatu niat, sikap dan tindakan. Baik untuk diri sendiri, maupun terhadap seluruh ciptaan Tuhan di alam semesta.
Definisi karakter “ pemurah”, adalah disaat kita memberikan sesuatu yang kita miliki, tidak memandang kepada siapa kita harus memberi, dari suku bangsa apa mereka terlahir, apapun agama yang dianut, bahkan terhadap flora dan fauna kita harus selalu toleran. Yang terpenting, apakah mereka membutuhkan atau tidak. Sedangkan karakter ”penyayang”, adalah jika memberikan sesuatu, menangani suatu masalah, baik untuk diri sendiri dan keluarga, maupun orang lain, kita harus memperlakukan dengan rasa sayang tanpa pamrih, seolah-olah hal itu merupakan bagian dari tubuh kita sendiri.
Namun demikian, yang menjadi masalah adalah ; mungkinkah kita bisa menjadi pemurah, selalu bisa memberi, jika untuk diri sendiri saja serba kekurangan? Dan mungkinkah pula bisa menyayangi orang lain, sementara diri kita masih penuh kesusahan, dan penuh penderitaan. Alih-alih akan menyayangi orang lain yang tidak sama agamanya, tidak sama suku bangsanya, tidak mengenal, apalagi terhadap flora dan fauna. Sementara kita tidak diperlakukan sama oleh mereka. Kita masih hidup penuh penderitaan, dan tidak ada seorangpun yang memperhatikan kita, dan lain-lain.
Sebenarnya, seluruh pertanyaan diatas telah diketahui oleh Tuhan, sehingga kenapa kita disuruh mengucapkan dua karakter Tuhan” maha Pemurah dan Maha Penyayang” setiap kita mau berpikir, membaca kita suci, mau makan dan minum, mau bekerja, dan lain-lain. Hal itu, agar kita mau berpikir, agar kedua karakter itu benar-benar merasuk kedalam diri kita, sehingga kemudian kita akan mencontoh kedua karakter tersebut, untuk diterapkan pada seluruh hidup dan kehidupan kita.
Tetapi mungkinkah itu bisa terlaksana? Terbukti seluruh ummat manusia yang beragama, khususnya Islam sudah melakukan, dan berjuta kali mengucapkan, namun kenapa masih tetap beringas, dan masih kesulitan, serta tetap saja menderita penuh kesusahan.
Jawabnya; diantara kita belum faham betul terhadap maksud dari kedua karakter Tuhan itu. Faham didalam mengartikan, namun masih sebatas wacana dan kata-kata. Walaupun sudah merasuk didalam hati, tetapi masih belum melaksanakan betul, terhadap makna yang terkandung didalam kedua karakter Tuhan itu. Perlu diketahui, pada saat kita mengucapkan dua karakter itu, berarti kita telah menyiapkan dan memilih lahan untuk menanam 2 benih karakter “pemurah dan penyayang”, dari berjuta-juta karakter Tuhan yang ada di makro kosmos. Kita harus mengunduh 2 karakter itu. Bagaimana cara mengunduh benih dari makro kosmos? Yakni, kita harus memulai dengan melaksanakan karakter “pemurah dan penyayang” terhadap sesama. Yang biasa saya lakukan, adalah dengan cara memberikan uang dan makanan pada orang yang tidak mampu, dan kita tidak mengenalnya. Disaat kita memberi, lebih dahulu tanamkan kedua karakter Tuhan itu pada hati, sehingga disaat kita memberi akan terjadi getaran pada kedua belah pihak. ( hal ini pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu).
Dengan adanya kita selalu mengunduh kedua karakter Tuhan, dan kita tanam didalam hati, maka kedua benih karakter Tuhan, makin lama akan semakin tumbuh subur didalam manusia batin, sehingga nanti diharapkan tumbuhan itu akan mempengaruhi pada kehidupan kita setiap harinya. Serta, dapat pula akan menular pada orang-orang disekitar kita. Sebab saya berpedoman, bahwa apa yang kita lakukan pada orang lain, maka orang lain akan berlaku yang sama terhadap diri kita. Dan bukan berarti jika kita memberi uang atau makanan pada orang tersebut, lantas orang itu akan memberikan balasan yang serupa. Namun demikian, kedua karakter Tuhan itu akan menjadi variabel antara kita dan makro kosmos, khususnya terhadap segala apa yang menjadi kebutuhan kita. Sebab, jika kedua karakter Tuhan telah memenuhi tubuh batin, akan menjadi elektro magnetik untuk menarik seluruh energi dari luar tubuh yang memiliki karakter yang sama, yakni “ pemurah dan penyayang”. Inilah sebenarnya makna dari ucapan “ Dengan nama Allah yang Maha Pemurah serta Maha Penyayang”.
Kesimpulannya, jika kita ingin mendapatkan ijasah kita harus sekolah, jika kita ingin pandai, kita harus rajin belajar. Begitu pula, jika kita ingin mendapatkan, maka terlebih dahulu kita harus memberi, dan bukan mencari. Sebab disaat kita mencari, belum tentu sama antara yang didapat dan yang dicari. Disamping membutuhkan waktu yang lama, tentu tidak akan seimbang dengan energi yang telah dikeluarkan. Intinya, jika kita memilih hasil akhir, maka variabel yang dijalani tidak kita ketahui. Jika kita memilih variabel, maka kita tidak akan mengetahui apa hasil akhir yang didapat. Dan kita tentu tahu, bahwa setiap sesuatu hal yang tidak kita ketahui akan menimbulkan kesulitan, dari kesulitan akan menimbulkan tantangan untuk menjalani. Dan jika kita penuh kesadaran didalam menjalani tantangan itu, tentang sebab dan akibatnya, maka dari sini akan muncul keberhasilan, bahkan kepuasan dan keindahan bagi orang yang beriman. Dan kita tinggal memilih; variabel atau hasil akhir.
Hau Siang Ni. (BRAM)
BalasHapus